Anak Kecil Itu Guru Kehidupanku

thumbnail
Selepas sholat Jum'at aku masih duduk di teras masjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah masjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya. Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik. Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras masjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya.

Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.

Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk. 
"Berapa harganya Nek?"
"Satu plastik kue lima ribu, nak", jawab si nenek.
Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :
"Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi."
Si nenek jelas sekali terlihat berbinar-binar matanya.
"Ya Allah....terima kasih banyak Nak. Alhamdulillah....Ya Allah kabulkan doa saya untuk beli obat cucu yang lagi sakit." ucap si nenek langsung jalan.

Refleks aku panggil anak lelaki itu.
"Siapa namamu ? Kelas berapa?"
"Nama saya Radit, kelas 2, pak", jawabnya sopan.
"Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'"
"Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah."
"Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?", tanyaku semakin tertarik.

"Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak", anak SD itu berbicara dengan fasihnya.

Aku pegang bahu anak itu, "Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?" 
"Ketika saya masih TK, Pak". jawab anak itu.

Tak terasa air mataku menetes, "Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya...", kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya. 

Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata, "Terima kasih banyak, Pak... Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan... Tapi bapa punya keluarga.... Saya pamit balik ke kelas Pak". Radit menyalami tanganku dan menciumnya.

"Allah menjagamu, nak ..", jawabku lirih.
Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya. Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya.
Kasir menjawab, "Empat puluh ribu rupiah.."
Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir, "Ini saya yang bayar... Kembaliannya berikan kepada si nenek ini.."

"Ya Allah.. Pak..." Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik.

Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku...

Akankah aku, anakku dan kalian semua dapat melakukan hal yang sama dengan Radit lakukan?
Semoga kita semua dapat mengambil hikmah nya dan dijadikan Allah hambaNya yang berjiwa besar serta selalu patuh padaNya..

Amiin YRA

Ungkapan Dzikir "SubhanAllah" Dengan "MasyaAllah"Sering Tertukar Penempatannya

thumbnail
Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “SubhanAllah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan SubhanAllah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan SubhanAllah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan SubhanAllah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah
Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah
Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan SubhanAllah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: 
“Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan SubhanAllah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan SubhanAllah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. 

Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Sumber : Arrahmah.com

Prabowo Subianto Membenamkan Rezim Brutal Komunis Kmer Merah Dan Menangkap Pol Pot (Legenda Komando-67 Kamboja)

thumbnail
By : Idjon Djanbi Team

Sepak terjang Prabowo Subianto di satuan Kopassus sangatlah menarik untuk diceritakan, bagaimana Kopassus ikut terlibat dalam membantu membenamkan rezim brutal komunis Kmer Merah dan menangkap Pol Pot Pelaku Kejahatan Manusia di Negara Kamboja.

April 1975, suasana Phnom Penh memanas karena terjadi perang memperebutkan kekuasaan Negara Demokratik Kamboja antara pihak Pol Pot yang beraliansi dengan partai - partai komunis lain dengan pendukung Sihanouk. Setahun kemudian, kubu Sihanouk kalah dan Pol Pot diangkat sebagai Perdana Menteri Kamboja, setelah ia terpilih lagi menjadi sekretaris partai.

Pol Pot akhirnya harus menghabisi kawan sendiri demi kestabilan posisinya. Selain kejam pada kawan sendiri, Pol Pot juga menunjukkan kediktatorannya sebagai pemimpin dengan memerintahkan rakyat untuk pindah ke perkotaan dan bekerja. Perintah Pol Pot ini menyebabkan terjadinya ledakan penduduk di ibukota yang dalam waktu singkat populasi disana bertambah sekitar satu juta jiwa. Program kerja paksa membuat rakyat menderita kelaparan, dan parahnya mereka tidak mendapatkan pelayanan kesehatan.

Lebih dari 3 dasawarsa rakyat Kamboja merasakan kekejaman yang dilakukan seorang anak manusia bernama Pol Pot. Sejarah lalu mencatat bahwa Pol Pot mewakili satu paham yang kemudian mendapat stigamatisasi negative, Komunis. Pol Pot bukan wakil jahat dari rezim yang mengatas namakan paham yang  dibuat oleh Karl Marx dan Engels ini. Sebut saja, Stalin, si tangan besi, lalu ada beberapa pemimpin dunia sebelum Pol Pot berkuasa yang mengatas namakan Komunis membantai ribuan bahkan jutaan rakyat tak berdosa di berbagai belahan dunia lainnya. Komunis kemudian menjadi musuh dalam kehidupan sosial, utamanya di negeri ini pasca tragedi sejarah yang penuh dengan misteri, peristiwa 1965.

Diperkirakan 500.000 rakyat kamboja dibantai (1970 – 1975) dan sejuta dibunuh atau mengalami kerja paksa sampai mati oleh rezim komunis Khmer Rouge (1975 – 1979).

Ada sekitar 343 “ladang pembantaian”, seperti Choeung Ek tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Tetapi, Choeung Ek adalah “ladang pembantaian” paling terkenal. Pasalnya, sebagian besar korban yang dieksekusi di sana adalah intelektual dari Phnom Penh.

Penjara S-21 atau Tuol Sleng adalah organ rezim Khmer Merah yang paling rahasia. Pada 1962, penjara S-21 merupakan sebuah gedung SMA bernama Ponhea Yat. Tuol Sleng yang berlokasi di sub-distrik Tuol Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh, mencakupi wilayah seluas 600 x 400 meter. Setelah Phnom Penh jatuh ke tangan Pol Pot, sekolah diubah menjadi kamp interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik.

Demikian pula kisruh antara Pihak Norodom Sihanouk dan Hunsen yang menginginkan sebuah negara berbentuk Republik, Pak Harto dan Mahathir Muhammad pun turun tangan membantu permasalahan Kamboja. Setelah tercapai kesepakatan ditentukan Norodom Sihanouk sebagai Raja dan Hunsen sebagai Perdana Menteri, Tapi masih dirongrong oleh Kmer Merah. Pol Pot masih mengendalikan Kmer Merah dari tempat persembunyiannya.

Munculah Ide dari Pemimpin Kamboja saat itu untuk melawan Komunis Kmer Merah, Pada Tahun 1995 mereka mengirim 1 Kompi (Dua Tahap 1995 dan 1996 Komandan dan Wakilnya) pemuda yang militan ke Indonesia dan Dilatih oleh Kopassus, saat itu Prabowo Subianto berpangkat Kolonel dan menjabat sebagai Danpusdik Passus Batujajar. 

Melatih pasukan Khusus Kamboja ini bukanlah hal yang gampang, mereka terbiasa hidup dihutan dan cenderung liar serta suka mengeluh dan cepat putus asa, jika dihadapkan kepada medan berat moril mereka langsung turun, tidak jarang mereka menyerah dan dipulangkan. Jika mereka berjalan, mereka hanya menghafal beberapa kata - kata dalam bahasa Indonesia "Komando Kalau Jalan Naik - Naik Terussss, Kalau turun, Turun terussss, Pelatih Enak Naik Mobil".

Buk..!!! Terdengar suara pukulan tali togel rim menghantam punggung mereka, cara ini dilakukan agar mereka berhenti mengeluh. Bahkan mereka tidak bisa membuang kotoran di lobang WC, para pelatih harus sabar menghadapi mereka, ini adalah Komando yang paling susah disaat Tahap Basic, tapi jika mereka bermain di hutan, mereka sangat Lihai karena mereka terbiasa bergerilya tapi tidak teratur dalam susunan formasi tempur.

Yang unik adalah, diantara mereka tidak ada yang berpangkat Tamtama, minimal Sersan Mayor, Mayor dan Kolonel, padahal pelatih mereka ada yang berpangkat Prajurit Satu, Mengapa..??, karena di negara mereka, Jika pasukan mereka berhasil membunuh Kmer Merah berpangkat lebih tinggi dari mereka maka itu pangkat tersebut langsung menyandang di pundak mereka. Bayangkan Jika mereka membunuh Jenderal, maka dia akan langsung menjadi Jenderal.

Selama 7 bulan mereka dilatih dengan materi hanya 66 %, hampir setiap hari Prabowo Subianto mengontrol mereka dan melaporkan kepada Satuan Atas dan Kerajaan Kamboja tentang perkembangan mereka dan mereka disebut dengan KOMANDO-67 yang menjadi Cikal Bakal Batalyon Para-Komando 911. Pasukan itu merupakan bagian dari tentara Kerajaan Kamboja (Royal Cambodian Army). Dari Komando inilah Prabowo Subianto menerapkan sistem pendidikan Manusiawi, Pelajar jika tidak ada kegiatan pelajaran jam 10 malam wajib tidur, Belajar diruang belajar menggunakan Proyektor dan Ruang Makan buka 24 Jam serta ada Ekstra Puding seperti jaman Jenderal Yusuf.

Betapa bahagianya mereka setelah dilantik di Permisan Nusakambangan dan langsung mengenakan Baret Merah dan Loreng Darah Mengalir Kopassus dan menjadi seragam mereka sampai saat ini. setelah konsolidasi mereka kembali ke negaranya Kamboja, dengan tekad didada mereka, akan menjaga negaranya, menghancurkan Kmer Merah dan memburu Pol Pot.

Selama mereka berada di Kamboja, terjadi insiden kontak tembak mereka dengan Pasukan Kmer Merah, mengakibatkan 3 personel mereka gugur, melihat hal itu, Prabowo Subianto pun berangkat ke Kamboja membawa 15 orang Prajurit Parako untuk mendampingi Pasukan Komando 911 Kamboja. Ke 15 orang anggota Kopassus ini melebur di setiap Regu pasukan Kamboja, kemudian regu ini dipecah menjadi unit-unit kecil agar mobilisasi cepat dan evisien dalam bermanuver. 

Operasi Sandi Yudha (Intelijen Kopassus) pun berjalan, didapat Informasi akan melintas 200 lebih pasukan Kmer Merah, 2 regu dipersiapkan untuk menghadang mereka serta Kiling Room, 2 regu lagi sebagai penutup untuk menyekat agar mereka tidak bisa meloloskan diri dan mencegah bantuan dari Kmer merah.

Pada siang hari melintaslah pasukan Kmer Merah tapi diantara mereka tidak terdapat Pol Pot, tepat mereka masuk di Killing Room, Door..!! tembakan pertama di sahut oleh ledakan Granat dan Ranjau, ini benar benar penghadangan yang disiapkan, mayat Kmer Merah bergelimpangan tak karuan, beberapa diantara mereka ada yang berusaha meloloskan diri dalam keadaan terluka tapi di hadang oleh Tim Penutup, tinggal beberapa orang saja diantara mereka yang masih hidup itu pun sebagian mereka ada yang terluka.

Prabowo Subianto memerintahkan seluruh mayat diserahkan ke Pemerintah Kamboja, sedang yang masih hidup dilakukan interogasi secara terus menerus, diantara mereka mengaku dimana keberadaan Pol Pot, pasukan pun Konsolidasi dan mulai memburu Pol Pot dan menyergap Pol Pot yang selalu berpindah pindah tempat setelah 3 hari memburu, Pasukan mendapatkan sebuah pemukiman ditengah hutan dan menyergap.

Dunia pun geger tahun 1997 Pol Pot ditangkap oleh Batalyon Komando-911 yang didalamnya ada personel Kopassus, Pol Pot dibawa ke pemerintah Kamboja, Penjahat Kemanusiaan ini hanya dikenakan Tahanan Rumah. Seluruh Personel Kopassus pun di Tarik ke Pnom Pen dan mendapatkan ucapan selamat dari Norodon Sihanouk dan Hunsen dan Prabowo Subianto mendapat sebuah kehormatan dari Kerajaan Kamboja menjadi Warga Negara Istimewa Kamboja.

Jadi, Pak Prabowo Mendapat Kewargaan Kehormatan pertama kali bukan dari Jordania tapi dari Pemerintah Kamboja.

Pada 15 April 1998, Dunia bersyukur Pimpinan Komunis dan Pelaku Kejahatan Kemanusiaan di Kamboja bernama POL POT hilang dari peredaran dunia dan disusul penangkapan tokoh - tokoh Kmer Merah yang lainnya.

SALAM INDONESIA RAYA
PENGABDIAN TANPA BATAS DI REPUBLIK YANG INDAH INI ADALAH SEBUAH KEHORMATAN

Prabowo Subianto : Kisah Penaklukan Puncak Everest (Kopassus)

thumbnail
SELAMA satu bulan di Kathmandu, rombongan pendaki ini mencurahkan waktu untuk menjaga kondisi tubuh. Galih Donikara mengadakan kursus memasak kilat untuk para sherpa yang selama ekspedisi juga bertugas menyiapkan makanan. Hasilnya? Soto ayam, baso tahu, bubur ayam, pecel, pisang goreng, dan banyak masakan lezat lain untuk para pencinta masakan Indonesia tidak lagi menjadi rahasia bagi penduduk Nepal. Untuk kepentingan ini, Kapten Rohadi ditugaskan membeli segala perlengkapan dengan kualitas yang terbaik. 

Pakaian-pakaian baru pun didatangkan. Sepatu-sepatu dengan kualitas paling bagus plus perlengkapan pendakian yang lengkap, menambah semangat anggota rombongan. Selanjutnya, kelompok dipisahkan lagi menjadi dua. Satu akan melalui jalur utara (Tibet), satu lagi melewati jalur selatan (Nepal). Dalam hal adanya kondisi cuaca buruk di salah satu rute, kelompok yang lain akan terbebas dari masalah ini. Dan, tentu akan membuat kesempatan untuk berhasil semakin besar. 

Kelompok yang melewati jalur selatan berada di bawah komando Letnan Iwan Setiawan. Terdiri dari enam anggota tentara, empat sipil, dua pendamping, tiga pelatih, 16 sherpa, dan empat juru masak. Tim yang lewat jalur utara di bawah komando Pembantu Letnan Sudarto. Terdiri dari empat anggota tentara, dua sipil, dua pendamping, satu pelatih, 12 sherpa, dan tiga juru masak. 

Pada 11 Februari, Prabowo Subianto meninjau keadaan para pendaki. Ia menemani kelompok yang melewati rute selatan dari udara ke Lukla yang menjadi titik keberangkatan dan kemudian dijemput dengan pesawat ke Jakarta. Kelompok yang melewati jalur utara meninggalkan Kathmandu pada 20 Februari 1997 ke perbatasan Sino - Tibet.

Di atas ketinggian 3.700 meter yang bersalju tebal, Prabowo masih sempat memberikan motivasi kepada para pendaki. Sekali lagi ia berpesan untuk berhati-hati. Tidak usah memaksakan diri, tetapi jangan menyerah. ”Pendakian ini bukan untuk saya, bukan untuk Anda, tapi untuk bangsa, negara, dan Merah Putih,” tegas Prabowo. 

Kelompok yang lewat jalur selatan menuju base camp menggunakan pendekatan serupa ketika mereka mencapai puncak Island. Anatoly Boukreev menemani mereka. Akhir musim dingin tahun itu ditandai dengan jatuhnya salju. Setelah melewati beberapa tahapan, para pendaki mencapai base camp pada 19 Maret. Delapan belas tenda didirikan oleh para sherpa untuk mengakomodir para pendaki dan barang-barang yang dibawa pada ketinggian 5.300 meter di atas permukaan air. 

Pada 22 Maret, tim kembali berangkat. Tahap berikutnya, di camp 1, hanya berjarak 800 meter tetapi perjalanan sangat berbahaya dan penuh rintangan. Para pendaki harus menyeberangi sungai-sungai kecil yang sangat dalam menggunakan jembatan darurat yang dibuat oleh para sherpa dengan kerangka alumunium ringan. 

Kekurangan oksigen juga menjadi masalah tersendiri. Setiap lima langkah mereka harus berhenti untuk mengambil napas. Asmujiono menjadi orang pertama yang mencapai camp dalam waktu 13 jam. Kedatangan pendaki selanjutnya berjarak 18 jam. Hanya satu orang yang kembali ke base camp. 

Tanggal 26 Maret, seluruh tim kembali ke camp 1. Perjalanan kedua diselesaikan lebih cepat daripada yang pertama. Hari berikutnya, mereka melanjutkan perjalanan ke camp 2, yang waktu itu berada pada ketinggian 6.500 meter. Para pendaki sudah sangat kelelahan dan kehilangan gairah. Namun, pada 28 Maret, mereka berhasil melewati tes penyesuaian iklim untuk melanjutkan pendakian ke ketinggian 6.800 meter. 

Setiba kembali di camp 2, mereka terperangah mendapati tenda-tenda mereka sudah hancur diterjang angin badai. Akhirnya mereka hanya berkumpul di tiga tenda yang masih bisa digunakan. Lalu, dengan cepat mereka kembali ke base camp tanpa berhenti di camp 1. Seperti sebelumnya, Asmujiono adalah orang pertama yang sampai. Dia bilang, dirinya mendapat tenaga ekstra alami dari kebiasaan minum tonik berupa cairan jahe dicampur dengan kuning telur. 

Tanggal 2 April, kelompok rute selatan sudah mendapat cukup pemulihan untuk percobaan pendakian yang kedua. Tujuan mereka kali ini adalah mencapai camp 2, dilanjutkan perjalanan ke camp 3, lalu melaju ke camp 4, dan kembali secara bertahap ke base camp. 

Camp 2 dicapai sesuai jadwal. Pada 3 April, tim Indonesia berhasil melewati penyesuaian iklim pada perjalanan ke camp 3 di ketinggian 6.800 meter. Dua anggota tim menderita berbagai macam gangguan fisik dan terpaksa kembali ke base camp. 

Sehari kemudian, 4 April, para instruktur terpaksa mengumumkan adanya kemungkinan pembatalan ekspedisi. Setelah semalam diserang cuaca buruk dan badai salju, tim Indonesia sendiri enggan untuk pergi lebih jauh lagi. Semangat mereka juga sudah menurun drastis. Di sisi lain, mereka sadar telah meninggalkan teman-teman mereka yang menderita sakit karena cuaca. Saat itu mereka telah mencapai camp 3 di ketinggian 7.300 meter. 

Setelah tidak tidur semalam, seorang anggota tim terpaksa balik lagi ke base camp ditemani seorang sherpa. Ia muntah darah, enam orang yang tersisa akhirnya menggunakan masker oksigen untuk pertama kali. Mereka mencapai ngarai bergaris kuning yang terletak pada ketinggian 7.852 meter dengan segala macam kesulitannya. Dua pendaki sipil yang tersisa, salah satunya juru masak Galih Donikara, sangat yakin tidak mungkin mereka melanjutkan pendakian. Bersama-sama mereka kembali ke Camp 3. 

Hari berikutnya, tiga anggota tentara langsung kembali ke base camp. Asmujiono menderita frostbite, kaku di salah satu tangannya. Mereka memaksa kecepatan dan sampai pada malam hari. Ini mengejutkan para sherpa. Mereka kemudian turun dan mengambil waktu istirahat selama seminggu di Deboche, tempat yang terletak di ketinggian 4.300 meter. 

***

Tanda-tanda untuk memulai tahap akhir yang akan membawa mereka ke Puncak Everest terlihat pada 17 April. Tetapi kekecewaan yang mendalam terlihat pada tim pendaki sipil. Pasalnya, instruktur hanya memilih Letnan Iwan Setiawan, Sersan Satu Misirin, dan Prajurit Asmujiono untuk berangkat ke pendakian menuju puncak. Lainnya bertahan dan dikerahkan ke beberapa camp.

Pada 22 April, ditemani seorang instruktur dan sherpa yang lebih berpengalaman, ketiga finalis ini meninggalkan base camp dan menuju ke Puncak Everest. Tahap pertama membawa mereka ke camp 2. Ini dicapai menjelang sore. Esok harinya, setelah sarapan kilat, mereka mengikuti Boukreev yang memimpin menuju ke camp 3. Rombongan tersebut berjalan berurutan, tiba di camp sekitar 14 jam kemudian. Kelompok ini terjaga sepanjang malam, mengantisipasi ada badai. Di atas angin yang bertiup kencang, mereka mendengar suara es yang pecah diterjang angin kencang. 

Hari berikutnya cuaca sangat ekstrem. Baru sehari sesudahnya rombongan kecil, dilengkapi dengan masker oksigen dan silinder tambahan, berangkat perlahan menuju camp 4. Dengan bantuan kabel yang sudah dipasang oleh para pendaki sebelumnya, mereka tiba dengan selamat di camp yang terletak di Pass Selatan. 

Ketiga prajurit Kopassus tersebut mencoba beristirahat dalam tenda mereka. Mereka sadar betul, ini pertama kalinya mereka mencapai camp ini dan merupakan tempat paling tinggi yang pernah mereka alami.

Cuaca dingin yang sangat mencekam bisa terus berlanjut. Boukreev akhirnya membuka jalan dengan menembus rintik-rintik salju yang berjatuhan. Ia menyadari, orang-orang Indonesia ini bergerak sangat lambat dan ia takut malam nanti akan ada badai salju yang hebat. Berdasarkan pengalaman ekspedisi tahun sebelumnya, para pendaki terjebak dalam angin badai yang bertiup dengan kekuatan 200 kilometer per jam. Beberapa anggota tim tewas di tempat itu. 

Setelah sampai di puncak bagian selatan, Boukreev sadar rombongannya tidak lagi dilindungi oleh kabel pengaman. Ada Sherpa - sherpa yang paling andal, berhasil membuka jalan masuk lewat salju menembus titik yang dikenal sebagai Hillary’s Step. Tetapi itu baru jam 12.30, sementara kedatangan mereka 15 jam lagi. Tentu akan sangat terlambat. 

Iwan sudah berada pada batas kekuatannya, Asmujiono menderita sakit punggung. Hanya Misirin yang masih dalam keadaan baik. Boukreev memutuskan untuk mengirim Iwan Setiawan dan Asmujiono kembali ke titik mereka berangkat. Ia merasa, mereka tidak akan dapat bertahan jika meneruskan perjalanan ke puncak. Kedua prajurit itu menolak. ”Kami pasukan Komando!! Kami akan terus sampai akhir…!” Sambil menggerutu, Boukreev mengangguk memberikan persetujuan. Kedua orang itu akhirnya tetap berada dalam rombongan. 

Kelompok ini berjalan lagi. Misirin berada di depan, memimpin rombongan. Ia sudah bertekad menjadi orang Indonesia pertama yang menginjakkan kaki di Puncak Himalaya. Namun, sangat mengejutkan, Misirin jatuh pingsan hanya beberapa meter dari puncak. Besar kemungkinan ia kelelahan. Melihat hal itu, Asmujiono seperti mendapat tambahan kekuatan untuk mempercepat langkah. Akhirnya, ia mencapai titik yang menjadi tanda puncak dari gunung tertinggi di planet ini. 

Menghadap kamera dan meletakkan semua peralatannya, termasuk masker oksigennya, melepas helm, Asmujiono lalu memasang baret merahnya. Prajurit muda itu sudah mewujudkan impian terindahnya. Kopassus menang dan Indonesia pun berjaya. Bendera Merah Putih berkibar pertanda kemenangan. Gema takbir, azan, dan teriakan komando pun kembali terdengar. Allahu Akbar!

***

Prabowo bersyukur, bendera Merah Putih sudah berkibar di atap langit. Kopassus sudah melewati batas ketahanan mereka yang luar biasa dan telah menunjukkan tekad serta semangat mereka. Tim ini juga sudah mampu menempatkan diri sejajar dengan para pendaki gunung kelas dunia. 

Di kemudian hari, ketika meninggalkan Kopassus, Prabowo merasa yakin, dirinya sudah mencapai paling tidak 40 persen dari apa yang seharusnya ia lakukan. Wajar jika Prabowo merasa bangga. Ia sudah menanamkan kepada anak buahnya rasa kebersamaan di antara mereka, esprit de corps, juga rasa cinta Tanah Air. Secara pribadi Prabowo sendiri telah mampu menunjukkan diri sebagai komandan, dalam pengertian ”Komandan adalah prajurit terbaik di unitnya.”

Prabowo Subianto : Masa Kecil 10 Tahun Di Pengasingan

thumbnail
Ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, lahir di Kebumen, Jawa Tengah. Ia menikah dengan Dora Marie Sigar, gadis Minahasa yang dikenalnya semasa tinggal di Belanda, pada 7 Januari 1947. Waktu itu Sumitro kuliah ekonomi di Rotterdam. Sedangkan Dora, yang sudah belasan tahun menetap di Negeri Kincir Angin, mengambil sekolah perawat di Utrecht. Sebuah perkawinan lintas agama yang terus dipertahankan oleh keluarga ini. 

Sejak awal, Sumitro maupun Dora sama - sama menolak pindah agama. Satu sikap saling menghargai, tenggang rasa, dan demokratis yang kelak menurun pada putra-putri mereka. Selama kurun waktu 1948 s.d. 1954, Sumitro-Dora dikaruniai empat anak. Dua anak perempuan, Biantiningsih Miderawati dan Maryani Ekowati, lahir pada 1948 dan 1950. Disusul dua anak laki-laki, Prabowo Subianto dan Hashim Suyono, yang lahir pada 1951 dan 1954. 

Maryani menikah dengan pengusaha asal Prancis, Didier Leaistre, sedangkan Biantiningsih menjadi istri J. Soedrajad Djiwandono, yang pernah menjabat Gubernur Bank Indonesia pada pertengahan 1990-an. 

Meskipun harus tinggal berpindah-pindah di beberapa negara, anak-anak Sumitro beruntung mewarisi kecerdasan orangtuanya. Biantiningsih misalnya, tercatat memiliki dua gelar. Satu dari South East Asian Studies di University of Wisconsin, satu lagi sarjana pendidikan dari Harvard. Maryani pun sama. Ia ahli mikrobiologi yang juga mengantungi dua gelar kesarjanaan. 

Berbeda dengan anak-anak perempuan yang diberi keleluasaan memilih studi, Sumitro agaknya punya rencana tersendiri terhadap dua anak lelakinya. Ia ingin Prabowo masuk universitas dan mendalami studi ekonomi seperti dirinya. Sedangkan terhadap Hashim, Sumitro sangat ingin ia mau menekuni karier militer. Sang ayah yakin benar, Hashim memiliki kualitas dan kemampuan untuk menjadi pilot pesawat tempur yang tangguh. 

Namun, di akhir sekolah menengahnya, Hashim rupanya lebih memilih kuliah di Claremont College dan Pomona California, dua kampus yang terkenal dengan riset-riset ekonominya. Ujung-ujungnya, Prabowo-lah kelak yang memutuskan masuk militer, meski jelas bukan untuk menggantikan Hashim memenuhi keinginan ayahnya. 

Selain kecerdasan, Sumitro-Dora juga mewariskan prinsip-prinsip egaliter, demokratis, dan sikap menenggang. Termasuk yang terkait dengan suku, agama, dan ras. Tak aneh jika banyak yang menyebut keluarga Sumitro sebagai ”Keluarga Pancasilais”. Sebab, walaupun agamanya berbeda-beda tetapi kehidupan mereka tetap harmonis. Prabowo contohnya. Ia penganut Islam dan berteman dekat dengan banyak kalangan Islam. Mariani pun sama, beragama Islam. Bianti dan Soedradjat pemeluk Katolik, sedangkan Hashim dan Ani istrinya beragama Protestan. Mereka berbeda, tapi bahagia. 

Lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, Prabowo muda sudah membuktikan memiliki wibawa dan kecenderungan untuk menjadi pemimpin. Semasa masih di sekolah dasar, ia sudah terbiasa melatih diri untuk dapat memberi aba-aba dengan gaya militer. Ia tak ragu naik ke atas kursi, berteriak pada kawan-kawannya. Di rumah, ia menyimpan kenang-kenangan berupa pernak-pernik militer peninggalan kedua pamannya. Suatu kenangan yang terus membayangi masa kecil dan dewasa Prabowo.

Umur lima tahun, Prabowo masuk sekolah di Sekolah Sumbangsih, terletak di kawasan Setiabudi, Jakarta. Inilah satu-satunya sekolah Indonesia yang diikuti Prabowo, selain Akademi Militer yang ia masuki setelah menjadi pemuda. Tahun 1957, ketika pecah pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), Prabowo pergi meninggalkan Jakarta bersama ibu, dua kakak perempuan, dan adik laki-lakinya. Mereka menumpang pesawat DC-3 Dakota terbang menuju Padang, menyusul Sumitro yang waktu itu terang-terangan menjadi pendukung gerakan separatis tersebut. 

***

Keluarga Sumitro sempat tinggal beberapa bulan di Sumatra Barat. Sampai akhirnya, beberapa pekan sebelum Padang dikuasai tentara, keluarga ini pindah ke Singapura. Sejarah kemudian mencatat, pengasingan diri bersama keluarga yang dimulai dari Singapura ini kelak membawa Prabowo ke beberapa tempat yang luar biasa di Asia dan Eropa. Secara keseluruhan, keluarga Sumitro menghabiskan waktu 10 tahun hidup dalam pengasingan, sejak 1958 - 1968.

Di Singapura, sembari menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, Prabowo bersekolah di British Elementary School. Tidak berlangsung lama, karena keburu terusik oleh riak-riak politik di negara-kota itu. Tahun 1959, Singapura berhasil mendapatkan pemerintahan sendiri. Mei tahun yang sama, pemilu pertama diselenggarakan untuk memilih 51 anggota perwakilan di parlemen. Memenangkan 53 suara, People’s Action Party (PAP) pun berkuasa. PAP adalah kelompok sayap kanan yang para pemimpinnya punya kecenderungan untuk menjaga hubungan baik dengan Presiden Soekarno.

Terkait alasan itu, mereka kemudian berbicara terus terang kepada Sumitro. Intinya, tidak sebaiknya ia dan keluarganya tinggal di Singapura yang notabene bertetangga dekat dengan Indonesia. Sumitro bisa memahami. Ia lalu memutuskan memboyong seluruh keluarganya ke Hong Kong, sekaligus memulai bisnisnya. 

Di negeri koloni Kerajaan Inggris ini, Sumitro sebelumnya memang sudah mendirikan perusahaan: Ecosafe – Economic Consultant for Asia and the Far East (Konsultan Ekonomi untuk Asia dan Timur Jauh). Prabowo yang masih belia, bersama dua kakak perempuan dan adiknya didaftarkan di Glenealy Junior School.

Hanya dua tahun di Hong Kong, keluarga ini sudah pindah lagi ke Kuala Lumpur-Malaysia, dan tinggal di sana selama dua tahun (1962-1964). Bukan kebetulan, banyak pemimpin Malaysia saat itu, khususnya Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman, adalah teman baik Sumitro. 

Di Kuala Lumpur Prabowo melanjutkan studi di Victoria Institute, sekolah Inggris. Di sinilah ketertarikannya pada dunia kemiliteran semakin tampak. Ia misalnya, lebih menyukai kegiatan ekstrakurikuler baris-berbaris dan main drum band ketimbang mengikuti ekstrakurikuler yang lain. 

Namun, situasi politik regional yang memanas, sekaligus mengawali konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia (1963), membuat keluarga Sumitro kembali berpikir untuk pindah lagi. Dalam konfrontasi itu, Sumitro tentu berpihak pada negaranya, meskipun di Tanah Air ia menentang secara terbuka politik Soekarno. Sumitro tidak tedeng aling-aling dalam membela negaranya. Bahkan, dalam segala konflik dengan pihak asing, ia merasa perlu untuk selalu berada di pihak Indonesia.

Sikap Sumitro sangat tegas. Termasuk menyangkut keputusannya untuk pindah ke sebuah negara netral. Pilihan jatuh ke Zurich, Swiss. Suatu pilihan yang, sudah pasti, membawa perubahan iklim dan gaya hidup yang mengejutkan bagi anak-anaknya. Namun, anak-anak Sumitro sudah terbiasa dan siap menerima perubahan lingkungan sekolah yang kali ini memang benar-benar berbeda, yakni di American International School. 

Di sekolah ini, Prabowo (waktu itu 13 tahun) aktif belajar bahasa Jerman dan Prancis. Ia bisa mengapresiasi manfaat bahasa Goethe itu dan menemukan nuansa yang tidak ada batasnya dalam bahasa Prancis. Prabowo menunjukkan minat yang sangat besar pada dua bahasa asing ini. 

Namun, seperti sudah suratan takdir, Swiss ketika itu baru akan menerapkan undang-undang keimigrasian. Kenyataan tersebut berdampak pada penolakan pemberian suaka politik bagi keluarga Sumitro. Alhasil, untuk kelima kalinya keluarga ini mesti pindah lagi mencari pelabuhan baru untuk tinggal.

Beruntung, pemerintah Inggris mengizinkan mereka untuk tinggal permanen di wilayah Inggris Raya. Medio 1966, keluarga Sumitro tiba di London. Seperti di Swiss, Prabowo masuk American International School yang letaknya tak jauh dari Taman Regent. Prabowo beruntung, di sekolah ini ia mendapat guru-guru hebat dan punya kenangan mendalam dengan salah satunya. Ia seorang profesor matematika, bekas kapten angkatan laut, yang dalam beberapa hal berhasil menanamkan kepada Prabowo ihwal pentingnya kedisiplinan. 

Kapan saja ada kesempatan, Prabowo sering pergi ke Speaker’s Corner di Hyde Park untuk mendengarkan orasi para ”orator kotak sabun” yang kesohor itu. Di lain kesempatan, Prabowo acap menghabiskan waktu untuk menyelesaikan dua buku dalam seminggu. Sejak kecil, Prabowo memang pembaca buku yang tekun. Kutu buku. Hobi yang ia tekuni hingga menyelesaikan sekolah menengahnya pada 1968.

Semasa kanak-kanak, Prabowo memiliki rasa ingin tahu tentang apa saja. Ia juga tak pernah terlihat menderita karena persoalan keluarganya yang seringkali harus berpindah-pindah. Prabowo sangat menikmati masa kecilnya. Baginya, kesulitan-kesulitan itu tidaklah berarti jika dibandingkan dengan pengalaman dan teman-teman baik yang ia dapatkan selama tinggal di pengasingan. 

Prabowo bahkan merasa tidak perlu ambil pusing, meskipun di Eropa – khususnya di Inggris – suasana pergaulan di sekolah agak kurang bersahabat. Ia sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Prabowo bahkan tak pernah diundang dalam pesta dan acara anak muda yang diadakan oleh teman-teman sekelasnya. Karena berasal dari Indonesia, ia dianggap terbelakang. ”Mereka berpikir, saat itu orang Indonesia masih tinggal di atas pohon,” ujarnya. 

***

Di rumah, Prabowo terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara dengan orangtua dan saudara-saudaranya. Kebiasaan berbahasa Inggris inilah yang, pada gilirannya, membuat Prabowo harus kembali belajar berbahasa Indonesia ketika diterima di Akademi Militer Magelang. Selama di Inggris, Prabowo menguasai sastra Anglo-Saxon dan – di atas segalanya – tentu saja sejarah bahasa Inggris. Prabowo tidak pernah menyukai matematika, meskipun ia mendapat nilai memuaskan pada ujian matematika. 

Mata pelajaran favoritnya adalah sejarah. Ini tak lepas dari minatnya yang sangat besar untuk mempelajari sejarah Eropa. Secara pribadi, Prabowo sangat terkesan dengan prestasi dari tokoh-tokoh pengukir sejarah seperti Alexander yang Agung, Julius Caesar, Napoleon Bonaparte – pemimpin-pemimpin yang garis hidupnya amat memukau perhatiannya. Di kemudian hari, ketika menjadi perwira, Prabowo juga sangat mengagumi Wellington. 

Di mata Prabowo, Napoleon adalah seorang pahlawan. Karisma dan kemampuannya menaklukkan Corsica adalah perpaduan yang ultra-luar biasa dari seorang militer jenius. Ia mempelajari strategi-strategi Napoleon dalam setiap gerakannya. Mulai dari Austerlitz sampai Waterloo. Buku-buku biografi wakil-wakil Napoleon pun dilahap habis, dari yang flamboyan sampai yang benar-benar prajurit sejati. Dari Murat sampai Ney, sosok pemberani dari yang paling berani. 

Begitu kuatnya kekaguman pada Napoleon ditunjukkan ketika Prabowo bersama keluarga berkunjung ke Paris, Prancis, pada 1965. Di Invalides, mereka mengunjungi makam Napoleon Bonaparte. Semua orang yang waktu itu ada di sana ingat betul, Prabowo menghabiskan waktu untuk berdiam diri dan merenung di depan nisan sang penakluk agung ini.

Prabowo juga memiliki ketertarikan khusus pada sosok Musthafa Kemal Attaturk. Pemimpin besar Turki yang dengan gemilang menahan serangan-serangan pasukan Inggris, Italia, dan Prancis, sekaligus pendiri Republik Turki modern. Selain itu, tokoh gothic Jenderal De Gaulle, yang dihukum mati secara in absentia oleh rezim fasis karena memilih jalan untuk kemerdekaan, juga mendapat tempat khusus di hati Prabowo. 

Meski dibesarkan dengan sistem pendidikan Barat, Prabowo tidak ”kebarat-baratan”. Semasa remaja, ia bahkan sempat mengalami krisis jatidiri. Ia pernah dihadapkan pada pertanyaan, apakah ia orang Barat ataukah orang Asia. Pencarian jawaban itu berakhir. Sebab, jauh di lubuk hatinya, ia yakin dirinya orang Indonesia dan bangga pada negaranya. Ia mencintai tanah airnya. Dan, ini dibuktikan: meskipun tinggal di Eropa, Prabowo secara intens mengikuti perkembangan negaranya. Bahkan mengikuti perjuangan kemerdekaan di negara-negara Asia dan Afrika. 

Saat itu, 1960-an, adalah tahun-tahun munculnya sejumlah pahlawan dari dunia ketiga seperti Nasser dan Nehru. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tekad kuat untuk mengangkat martabat bangsanya. Indonesia sendiri sebenarnya berada pada fase ini. Namun, menyadari masih banyaknya persoalan, mulai dari kemiskinan hingga keterbelakangan, membuat Prabowo yakin: seandainya kelak ia pulang dan memainkan peran di Tanah Air, apa yang akan ia perankan harus dimulai dari anak tangga paling bawah.

Jangan Menunggu....

thumbnail
Jangan menunggu Bahagia baru Tersenyum....
Tapi Tersenyumlah, maka kamu Kian Bahagia.

Jangan menunggu Proyek baru Bekerja....
Tapi Bekerjalah, maka Proyek Akan Menunggumu.

Jangan menunggu kaya baru Bersedekah....
Tapi Bersedekahlah, maka Kamu Semakin Kaya.

Jangan menunggu Dipedulikan Orang baru kamu Peduli....
Tapi Pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan Dipedulikan.

Jangan menunggu orang Memahami kamu baru Memahami Dia....
Tapi Pahamilah orang itu, maka orang itu Paham dengan kamu.

Jangan menunggu Terinspirasi baru Menulis....
Tapi Menulislah, maka Inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

"Bukan kebahagiaan yang menjadikanmu seorang yang bersyukur, 
tetapi kemampuanmu untuk menyukuri-lah yang menjadikanmu pribadi yang berbahagia.

Janganlah engkau hanya menunggu agar kebahagiaan datang menghampirimu.
Bergeraklah, aktiflah, bergaullah, dan bekerjalah - karena di dalam keterlibatan - keterlibatan seperti itulah engkau akan menemukan kebahagiaan.

Jadilah pribadi yang aktif tertarik untuk menjadikan dirimu dan para sahabatmu bergembira.

Jika ketertarikanmu adalah mengupayakan kegembiraan, kedamaian, dan kesyukuran dalam keseharianmu bersama orang lain - maka tumbuhlah kebahagiaanmu."

-Mario Teguh-

Jangan menunggu Dicintai baru Mencintai....
Tapi Belajarlah Mencintai, maka kamu akan Dicintai.

Jangan menunggu Banyak Uang baru Hidup Tenang....
Tapi Hiduplah dengan Tenang, Insya Allah bukan sekedar Uang yang datang.

Jangan menunggu Contoh baru Bergerak Mengikuti....
Tapi Bergeraklah! Maka kamu akan menjadi Contoh yang Diikuti.

Jangan menunggu Sukses baru Bersyukur....
Tapi Bersyukurlah, maka Bertambah Kesuksesan-mu.

Jangan menunggu Bisa baru Melakukan...
Tapi Lakukanlah! Kamu Pasti Bisa!!

Para Pecundang selalu menunggu BUKTI dan Para Pemenang Selalu Menjadi BUKTI..!
Seribu kata Mutiara akan dikalahkan dengan SATU AKSI NYATA!
WAIT LESS..! DO MORE....!!!

Barakallah Fiikum....

5 Orang Bodoh Paling Sukses Di Dunia

thumbnail
Orang sukses yang saya maksudkan di sini bukan orang - orang yang baru dapat seragam perusahaan, lantas sudah menulis “dompet saya tebal” di status facebook mereka. Orang-orang sukses ini adalah mereka yang lebih banyak bertindak daripada berbicara dan lebih banyak berusaha daripada mengumbar...

Kesuksesaan orang-orang ini bukan dalam bentuk kebanggaan status sosial atau kebanggaan sebuah seragam, jabatan, atau title panjang, melainkan awal karir mereka yang dipenuhi oleh orang-orang yang meledek mereka sebagai orang "Bodoh". Tapi orang-orang ini dengan sukses mengalahkan semua rintangan yang menghalangi mereka dari keberhasilan, dan tentunya keberhasilan mereka ini diikuti dengan nominal penghasilan yang gila - gilaan! Yang oleh kebanyakan orang hanya bisa didapatkan lewat mimpi.


1. BILL GATES
William Henry Gates III alias Bill Gates adalah orang terkaya dunia selama 13 tahun berturut-turut sejak 1995 sampai 2007. Dia adalah ketua umum perusahaan perangkat lunak Amerika Serikat, Microsoft Corp. Pada dasarnya, si Bill Gates ini memang anak yang cerdas. Gates belajar di Lakeside School, sekolah elit yang paling unggul di Seattle, dan meneruskan berkuliah di Universitas Harvard.

Lalu kenapa orang meledek dia bodoh? Karena Bill Gates gagal menyelesaikan kuliahnya di Harvard dan harus di DO alias Drop-Out. Saya ulangi...di DROP-OUT!! 

Tidak usah jauh - jauh lah, bayangkan saja apa kata orang tua dan orang-orang di sekitar anda bila anda harus kena DO dari kampus. Pasti banyak bunyi sumbang seperti: "Ah emang dasar dia-nya malas", "Ah emang dasar dianya bodoh", "Ah, emang dasar dia bodoh nga bakat jadi sukses" dan lain-lain.

Itu karena kebanyakan orang berkuliah bukan hanya untuk mendapat ilmu, tapi tentu saja untuk dapat “Titel”. Bill Gates, harus mengorbankan kuliah dan kesempatannya mendapat titel untuk fokus kepada penulisan Microsoft BASIC, bahasa komputer terjemahan yang utama untuk sistem operasi komputer MS-DOS, yang akhirnya menjadi kunci pada kesuksesan Microsoft. Sekarang, jumlah kekayaan Bill Gates diperkirakan mencapai sebesar $18 Trilliun, yang belum juga bisa dibandingkan dengan pendapatan 20 orang pejabat korup terhormat dengan titel - titel-nya yang sepanjang 10 senti…..


2. ADAM KHOO
Si Adam Khoo ini adalah seorang berkebangsaan Singapura. Beda dengan Bill Gates, si Adam Khoo ini memang terkenal "batu", terutama dalam hal akademis. Saking gebleknya, dia sudah dikeluarkan dari sekolah di kelas 4 SD. Sesusah apa sih pelajaran di kelas 4 SD sampai harus dikeluarkan? Jadinya dia masuk ke SD terburuk di Singapura untuk terus melanjutkan sekolah. Saat pendaftaran masuk SMP, dia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. 

Akhirnya, lagi-lagi dia harus masuk ke SMP terburuk di Singapura untuk melanjutkan sekolah. Dengan prestasi akademis yang kerdil ini, wajar saja dia menjadi bahan tertawaan teman-teman sejawatnya waktu itu. Orangtuanya pun panik dan mengirim adam ke banyak les, tapi hal itu tidak menolong sama sekali. Di sebuah sekolah dengan nilai 0-100, rata-rata nilainya adalah 40. Bahkan guru matematikanya pernah mengundang ibunya dan bertanya, “Kenapa di SMP kelas 1, Adam Khoo tidak bisa mengerjakan soal kelas 4 SD?”

Tapi kekurangannya di dunia akademis tidak membuntukan ketajamannya di bidang bisnis. Adam Khoo memulai bisnisnya sejak umur 15 tahun. Kini dia bergerak di bidang bisnis training dan seminar. Bahkan di saat usianya baru 22 tahun, Adam Khoo sudah menjadi trainer tingkat nasional di Singapura dengan bayaran $10.000 per jam!

Bayangkan saja, di umur 22 tahun saat semua orang masih disibukkan dengan ngeband, kuliah, dan mendaftarkan diri di bank-bank swasta, Adam Khoo yang dibilang "bodoh" sudah menghasilkan 100 juta rupiah perjam! 

Kini di usia 26 tahun, dia telah memiliki 4 (empat) bisnis dengan total nilai omset US$20 Juta per tahun. Lalu bagaimana dengan teman-teman sejawatnya yang dulu meledek nilai akademis Adam?? Cuma menelan ludah!!


3. MARK ZUCKERBERG
Mark zuckerberg nama panjang orang ini memang bisa membuat lidah keseleo, jadi anda pasti setuju kalau saya cukup memanggilnya Mark saja. Nah, siapa si Mark ini? Anda pasti sudah akrab kan dengan situs jejaring sosial bernama Facebook tempat dimana anda berhubungan dengan kolega, atau tempat anda berusaha mencari jodoh, atau sekedar untuk memajang foto anda dengan narsisnya. Nah, Facebook adalah mesin pencetak uang bagi si Mark.

Mark adalah pembuat situs Facebook dan sekarang masih menjabat sebagai CEO jejaring sosial tersebut. Mungkin anda pernah bertanya: “Kok Facebook didominasi warna biru mulu ya?” Itu karena si Mark ini ternyata buta warna hijau dan merah, dan warna terbaik yang bisa dia lihat hanya warna biru.

Lalu kenapa dia pernah dibilang "bodoh"? Karena si Mark nekat mengikuti jejak seniornya Bill Gates, yaitu di DO alias Drop-Out dari Harvard University. Tapi di DO-nya dia bukan karena keasyikan dengan organisasi kampus atau sibuk ‘boya’ cewek - cewek junior, tetapi sibuk mengembangkan situs jejaring sosial ini. Di saat teman - teman kampusnya masih sibuk dengan pertanyaan "Saya diterima kerja apa tidak ya?", si Mark sudah menjadi milyarder termuda dalam sejarah, dan itu karena usahanya sendiri.


4. THOMAS ALFA EDISON
Kisah hidup Thomas Alfa Edison memang sangat mengharukan. Siapa yang menyangka kalau sang penemu lampu adalah seorang yang agak tuli dan hanya mengenyam pendidikan formal selama 3 bulan?

Ketika berumur 4 tahun, Thomas Alfa Edison pulang ke rumah dengan membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya kemudian membaca kertas tersebut: “Tommy, anak Ibu, sangat bodoh. Kami minta Ibu mengeluarkannya dari sekolah,”

Tapi apa yang terjadi? Dengan bimbingan Ibunya, Thomas Alfa Edison dengan leluasa dapat membaca buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Karier penemuannya diawali setelah membaca buku School of Natural Philosophy karya RG Parker (isinya petunjuk praktis untuk melakukan eksperimen di rumah) dan Dictionary Of Science. Ibunya lalu membuatkan sebuah Laboratorium kecil buat dia.

Di usianya yang relatif muda, Thomas sudah berhasil mengukuhkan temuan-temuannya, penemuan terbesarnya adalah Lampu Pijar. Hingga akhir hayatnya, Thomas tercatat memegang rekor sebanyak 1.093 temuan dan dipatenkan atas namanya. Baru pada percobaannya yang ke 9.999 dia berhasil secara sukses menciptakan lampu pijar yang benar-benar menyala terang. Pada saat keberhasilan dicapainya, dia sempat ditanya: Apa kunci kesuksesannya? Thomas Alfa Edison menjawab: “Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut KEGAGALAN”.

Bayangkan saja dia telah banyak sekali mengalami banyak kegagalan yang berulang-ulang. Bahkan saat dia ditanya apakah dia tidak bosan dengan kegagalannya? Thomas Alfa Edison menjawab: “Dengan kegagalan tersebut, saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala”.

"I will not say I Failed 1000 times, I will say that I discovered there are 1000 ways that can cause failure.." -Thomas Edison-

Penghasilannya dari temuan-temuan tersebut pun lebih dari cukup untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Pada tahun 1928 dia menerima penghargaan berupa sebuah medali khusus dari Kongres Amerika Serikat atas semua temuan-temuan yang telah dia patenkan. Lalu bagaimana nasib si guru yang dulu menyatakan Thomas "bodoh" lewat suratnya? Boro - boro dapat penghargaan, namanya pun tidak pernah terdengar!


5. ABRAHAM LINCOLN
Abraham Lincoln juga adalah salah satu contoh orang yang sukses dalam meladeni kegagalannya. Bayangkan saja, beliau mengalami kegagalan demi kegagalan dalam hidupnya selama 20 tahun!. Dari mengalami kegagalan dalam bisnis, di tinggal mati istrinya, hingga hampir masuk rumah sakit jiwa, tetap berjuang hingga akhir hayatnya.

Sepenggal perjuangannya:
Gagal Dalam Bisnis pada tahun 1831.
Dikalahkan Di Badan Legislatif pada tahun 1832.
Gagal Sekali Lagi Dalam Bisnis pada tahun1833.
Mengalami Patah Semangat pada tahun 1836.
Gagal Memenangkan Kontes Pembicara pada tahun 1838.
Gagal Menduduki Dewan Pemilih pada tahun 1840.
Gagal Dipilih Menjadi Anggota Kongres pada tahun 1843.
Gagal Menjadi Anggota Kongres pada tahun 1848.
Gagal Menjadi Anggota Senat pada tahun 1855.
Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
Gagal Menjadi Anggota Dewan Senat pada tahun 1858.

Kira-kira apa yang akan terjadi pada anda bila mengalami kegagalan demi kegagalan terus menerus selama puluhan tahun? Saya pribadi mungkin cuma punya 2 jawaban: Menyerah! atau Gila!.

Wajar saja banyak yang menganggap dia "bodoh" jika terus memaksakan dirinya berada di dunia politik. Tapi kegagalan Abraham Lincoln dalam dunia politik tidak lantas membuat dia menyerah dan membuka counter pulsa (karena memang handphone saja belum ada saat itu), dia terus maju walaupun pada tahun 1836 pernah terpuruk karena kegagalan-kegagalannya.

Abraham Lincoln berhasil menjadi presiden Amerika ke -16 pada tahun 1860 dan juga sebagai salah satu Presiden tersukses dalam memimpin bangsanya, yaitu menghentikan perang saudara Amerika dan menghapuskan perbudakan.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari para ahli sukses di atas? Keberhasilan hanya bisa diraih dengan bertahan dari kegagalan. Dalam proses pencapaian kesuksesan, akan banyak rintangan dari luar, termasuk caci maki dari orang-orang anti-sukses disekitar anda. Tetaplah berani untuk menempuh jalan yang berbeda dari kebanyakan orang, dan tetap percaya pada potensi dan impian anda….Maka, “SUKSES” hanya soal waktu.

3 Hal Yang Bisa Di Pelajari Dari Pohon

thumbnail

1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri.
Buah adalah hasil dari pohon. Darimana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah. Semakin dalam akarnya makin banyak nutrisi yang diserap. Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan.


Mengapa buah kurma manis sekali? Pohon kurma itu ditanam di padang pasir. Bijinya ditaruh pada kedalaman 2 meter, kemudian ditutup dengan 4 lapisan. Sebelum pohon kurma itu tumbuh, dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4 lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis ditengah padang pasir.

Ada proses tekanan begitu hebat ketika kita menginginkan hasil yang luar biasa. Seperti juga pegas yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan….Senantiasa mendekatlah kepada Tuhan.

2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya di petik orang.
Kadang kita protes, kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain, atau merasa dihargai murah. Inilah prinsip memberi, dan keihklasan. Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah, ibarat distributor, kita hanya menyalurkan ke agen – agennya, analoginya barang atau buah yang diberi Allah itu bukan sepenuhnya milik kita. 

Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang membutuhkan. Jadi bukan untuk kenikmatan sendiri. Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita.

3. Buah yang dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi.
Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi dampak positif terhadap orang lain. Pemimpin itu bukan masalah posisi/jabatan, tapi mengenai pengaruh dan inspirasi yang diberikan kepada orang lain.

Selamat belajar menjadi pohon yang bermanfaat……